RIWAYAT HIDUP
A. MASA KELAHIRAN
1. 1. MASA KELAHIRAN
Ayah penulis berasal dari
Yogyakarta, beliau lahir pada tanggal 5 Oktober 1962. Beliau berasal dari suku
Jawa. Ibu penulis lahir di Bandung, tepatnya
pada tanggal 10 November 1966, suku Sunda. Ayah dan ibu penulis awalnya bertemu di Lampung,
dan akhirnya memutuskan untuk menikah pada tanggal 5 Desember 1993 di Bandung. Setelah beberapa saat, ibu penulis ternyata hamil dan melahirkan anak pertama
sekaligus kakak bagi penulis yang diberi nama Vania Utami pada 9 Juni 1995.
Kemudian, saat kakak penulis berusia hampir setahun, ibu penulis kembali mengandung anak kedua. Saat menanti kelahiran penulis, keluarga penulis memutuskan untuk pergi ke Bandung dan melahirkan di sana. Menurut keterangan ibu penulis, proses kelahiran penulis cukup sulit. Pada hari Selasa, tanggal 11 Februari 1997, tepatnya pagi hari, ibu penulis merasakan kontraksi. Begitu mengetahuinya, bibi penulis segera memanggil bidan setempat ke rumah keluarga penulis. Menurut bidan, ibu penulis akan melahirkan beberapa jam lagi.
Hingga akhirnya pada pukul 2 siang, ibu penulis
berhasil melahirkan dengan selamat. Bayi dengan berat 3,5 kilogram dan tinggi
49 cm itu adalah penulis. Orang tua penulis sepakat
memberi nama FEBRIANA DWI JAYANTI.
Nama tersebut memiliki arti tersendiri bagi orang tua penulis, yaitu Febriana
yang berarti seorang anak perempuan yang dilahirkan pada bulan Februari, Dwi
dari bahasa Sansekerta yang berarti penulis merupakan anak kedua, dan Jayanti
yaitu singkatan dari nama orang tua penulis (Surati”ja” dan Novi”anti”).
2.
MASA BATITA
Waktu masih kecil, penulis sangat suka merangkak. Dan akhirnya pada umur yang kesebelas bulan, penulis sudah bisa berdiri dan berjalan. Lebih cepat dibandingkan anak-anak lain. Sedangkan mengenai berbicara, penulis sama seperti batita (bawah tiga tahun) pada umumnya. Penulis hanya dapat mengucapkan kata-kata yang mudah dan tidak bisa mengucapkan kata-kata yang sulit maupun panjang. Saat itu, penulis tidak suka banyak berbicara atau berisik seperti anak lainnya.
Saat
berumur 4 tahun penulis belum bisa menulis huruf-huruf alfabet maupun
angka. Tapi penulis diajarkan menulis angka oleh ibu dan kakak penulis. Tapi
setelah berlatih beberapa minggu, penulis akhirnya dapat menulis semua angka
dengan baik. Sebelum bersekolah pun, penulis sudah bisa mengeja kata-kata juga
membacanya dengan benar karena penulis selalu diajarkan setiap ada waktu
senggang.
Menurut ibu penulis, penulis selalu merawat mainan-mainan yang dibelikan dengan baik sehingga awet dan masih bisa dipakai untuk waktu yang cukup lama. Permainan yang digemari penulis adalah menyusun balok, bongkar-pasang, sampai puzzle yang lebih sulit. Hal tersebut sering penulis lakukan karena lebih asik dan dapat membuat macam-macam bentuk yang penulis suka.
B. MASA AWAL SEKOLAH
1. 1. MASA
TAMAN KANAK-KANAK
Pada tahun 2002, tepatnya saat penulis berumur 5 tahun 4 bulan, orang tua penulis mendaftarkan dan menyekolahkan penulis di TK Kartika II-31. Penulis masuk kelas 1B. Pada awalnya, penulis takut di sekolah sendirian, karena belum punya teman dekat ketika itu. Oleh karenanya, ibu penulis harus menunggu di depan kelas penulis. Tapi di hari ketiga bersekolah, penulis tidak keberatan apabila ibu penulis pulang.
Guru pembimbing penulis waktu itu ada
dua orang, yakni Ibu Tari dan Ibu Noni. Beliau sangat baik hati, sabar, dan
sering mengajarkan berhitung, menulis, bermain plastisin, baris-bebaris yang
rapi, atau pun bernyanyi. Penulis dipanggil
dengan nama kecil “Erin”, diambil dari F'e'b'ri'a'n'a. Mungkin memang kurang sesuai.
Pada tanggal 28 Oktober 2002, penulis
mewakili TK Kartika II-31 mengikuti lomba 3M, yakni Mewarnai, Menggunting, dan
Menempel di tingkat TK se-Tanjung Karang Barat. Lomba itu diselenggarakan dalam
rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda. Saat itu, penulis menjadi juara 1 dan
mendapat piala juga hadiah berupa alat mewarnai.
Lalu di perpisahan Taman Kanak-kanak, penulis terpilih untuk menarikan Tari Kipas. Dan pada hari perpisahan di Taman Budaya, penulis dapat menampilkan tarian itu dengan cukup baik. Seusai lomba pun, penulis dipanggil kembali ke atas panggung karena mendapatkan penghargaan sebagai Murid Terapi TK Kartika II-31 Bandar Lampung pada tahun pelajaran 2002-2003. Karena itu, penulis mendapat piala yang diberikan oleh dewan guru.
2.
MASA
SEKOLAH DASAR
Setelah lulus dari TK Kartika II-31, penulis melanjutkan belajar di SD Kartika II-5 atau yang sering disebut SD Persit (Persatuan Istri Prajurit), sekolah dasar swasta yang cukup terkenal di Bandar Lampung. Penulis masuk ke kelas I.E dengan walikelas Ibu Anastasia Marini. Pada hari pertama sekolah, penulis tidak memiliki satu teman pun yang penulis kenal.
Pelajaran berhitung di kelas satu tidak
terlalu susah. Tetapi penulis sering ceroboh dan tidak teliti dalam mengerjakan
tugas berhitung, sehingga pernah sekali penulis mendapat nilai 5. Saat itu
penulis sangatlah sedih dan berlatih berhitung kembali. Waktu kelas satu pun penulis pernah
ditarik ujung rambutnya oleh guru pelajaran Agama Islam karena tidak membawa
buku PR.
Ketika naik ke kelas II.E, penulis tetap sekelas dengan teman-teman di kelas satu. Waktu itu, penulis sebangku dengan Sahda Salsabila. Dia anak yang baik dan ramah. Wali kelas pun berganti, menjadi Ibu Sekarsari Christina Dewi. Beliau adalah guru yang sangat tegas. Teman-teman akrab penulis saat itu selain Sahda adalah Maya dan Rima.
Pertama kali penulis memakai kacamata
pun ketika kelas tiga SD. Awalnya penulis hanya ikut-ikut kakak penulis ke
optik untuk memeriksa kesehatan mata dan akhirnya penulis juga ingin mencobanya.
Dan tidak diduga-duga, ternyata mata penulis minusnya lebih dari 1. Maka dari
itu, penulis dibelikan orang tua penulis kacamata dan penulis memakainya sejak
saat itu.
Hari Jum’at di Persit adalah hari yang menyenangkan. Karena hanya ada kegiatan ekstrakurikuler dan senam aerobik pagi. Penulis memilih ikut ekstrakurikuler melukis. Dibimbing oleh Ibu Sutimah, Pak Raden Hardi, dan sesekali ada guru seni dari luar sekolah. Penulis juga mengikuti kegiatan bela diri Taekwondo atas ajakan dari teman akrab penulis. Latihannya setiap hari Minggu pagi. Biasanya penulis pergi diantar dan pulang naik angkutan umum bersama kakak penulis yang juga mengikuti Taekwondo.
Awal mula naik ke kelas 4, penulis
sebangku dengan Sahda, teman akrab penulis dari kelas 1. Penulis tetap
melanjutkan ikut bimbingan belajar. Kebetulan banyak juga murid IV.G
yang ikut bimbingan itu dan sekelas kembali bersama Rachel, Melinda, dan Yola
Polandhani. Kami berempat selalu bersama saat les, mulai dari makan, belajar,
sampai ke sekolah bersama.
Sama seperti sebelumnya, penulis melanjutkan kegiatan ekstrakurikuler melukis. Sahda pun mengikutinya. Kami jadi makin sering bersama. Di kelas, kami sebangku. Begitu juga saat ekstrakurikuler, kami tetap sebangku. Tetapi terkadang penulis sebangku dengan Rachel yang juga mengikuti ekstrakurikuler ini.
Persaingan di kelas sangat ketat.
Penulis harus berusaha keras untuk mendapat peringkat di kelas. Tetapi hasilnya
kurang memuaskan, pada semester satu, penulis hanya mampu masuk sepuluh besar.
Dan pada akhirnya pada semester kedua pun penulis tidak mampu masuk tiga besar.
Tetapi penulis berhasil masuk ke kelas 6 RB dengan walikelas Subono, S.Pd.
Dari kelas 6 RB, penulis mendapat
banyak sahabat-sahabat baru selain Sahda dan Rachel, yaitu Ratna, Niken,
Adinda, dan Hanny. Kami sangatlah akrab. Penulis duduk di deretan paling depan
bersama Ratna karena berkacamata dan badannya termasuk kecil dibandingkan murid
lain. Mulai dari kelas 6, penulis berpindah
ekstrakurikuler, yaitu basket. Penulis pun ketika itu sudah tidak melanjutkan
Taekwondo karena mulai merasa bosan. Tim basket penulis terdiri dari penulis,
Adinda, Rachel, Niken, dan Sahda.
Masa-masa indah telah banyak penulis
lewati. Penulis harus serius belajar untuk menghadapi Ujian Nasional untuk
menentukan kelulusan. Penulis mengikuti bimbingan belajar di sekolah dan les
bahasa Inggris, biasanya penulis berangkat bersama
Siti, Azalia, dan Melsya sepulang sekolah.
Dan akhirnya penulis mengikuti Ujian Nasional dengan sungguh-sungguh. Penulis mengerjakannya semaksimal mungkin dan mengharapkan nilai yang baik di Ijazah.
Dan akhirnya penulis mengikuti Ujian Nasional dengan sungguh-sungguh. Penulis mengerjakannya semaksimal mungkin dan mengharapkan nilai yang baik di Ijazah.
C. MASA REMAJA
1.
MASA
SEKOLAH MENENGAH PERTAMA
Sebelum resmi lulus dari SD Kartika
II-5 Bandar Lampung, penulis memutuskan untuk mendaftar dan ingin melanjutkan
sekolah di SMP Negeri 2 Bandar Lampung, sekolah menengah pertama RSBI
terfavorit di Bandar Lampung. Karena ingin mengikuti program RSBI, tesnya pun
dilakukan lebih dulu daripada tes untuk kelas regular. Penulis dan beberapa
sahabat, seperti Adinda, Niken, Sahda dan Hanny memilih SMP N 2.Tes untuk dapat masuk
SMP N 2 terbagi menjadi beberapa tahap, yaitu pendaftaran yang mengharuskan nilai calon peserta didik diatas rata-rata 75, tes tertulis akademik, tes kemampuan Bahasa Inggris, tes psikologi, dan wawancara calon peserta didik. Setelah lolos seleksi nilai, penulis melanjutkan tes akademik. Dan alangkah terkejutnya penulis ketika melihan nama penulis tercantum di peringkat kedua dan dapat masuk ke kelas Akselerasi.
Program akselerasi adalah program percepatan dimana waktu belajarnya hanya 2 tahun saja. Menurut kakak penulis, bertahan di sana sangatlah sulit. Oleh karena itu, penulis merasa takut mencoba masuk program akselerasi. Awalnya penulis ingin mengundurkan diri, sedangkan orang tua penulis sangat mendukung masuknya penulis ke program akselerasi. Dan akhirnya penulis membatalkan pengunduran diri dan melanjutkan belajar di program akselerasi di SMP N 2 Bandar Lampung.
Untuk pertama kalinya, penulis
mengalami MOS (Masa Orientasi SIswa) di sana. Ternyata kelompok MOS itu sesuai
dengan pembagian kelas. Dan dari SD yang sama, yaitu Persit penulis sekelas
kembali dengan Adinda, Annisa, Icha, Yola, Adam, dan Erza. Waktu MOS, nama
kelompok penulis adalah Petra dengan warna putih.
Kelas Akselerasi terdiri dari 20
murid, 13 merupakan siswa dan 7 siswi. Murid-muridnya berasal dari sekolah
dasar yang berbeda-beda. Kelas Akselerasi ini merupakan angkatan yang
kedelapan. Tahun pertama, walikelas Aksel 8 adalah Ibu Risnauli Hasibuan, S.Pd.
Beliau mengajarkan mata pelajar Bahasa Indonesia.
Hal berkesan adalah pasa saat mengikuti kegiatan Out Bound di Karawang, wisata belajar di PLTN Tarahan dan rekreasi di Pantai Pasir Putih, juga yang terakhir Out Bound di Jakarta-Bandung.
Pada tahun kedua, wali kelas kami
berganti menjadi Bapak Drs. Bambang Supranoto. Beliau mengajar Bahasa Inggris. Dan pada semester terakhir, penulis
mendapat teman baru lagi, namanya Mutia. Ia adalah pindahan dari Maluku.
Penulis tidak pernah membayangkan akan kedatangan teman baru di Aksel 8.
Waktu kami di SMP terasa sangat
singkat, sampai akhirnya sudah ada Ujian Nasional yang menanti kami. Nilai
Latihan Ujian Nasional IPA penulis selalu rendah dan di bawah rata-rata. Hal
tersebut membuat penulis sangat terbebani dan terpaksa mengikuti kelas tambahan
mata pelajaran IPA di sekolah. Dan syukur
penulis panjatkan karena lulus dari SMP N 2 Bandar Lampung.
2.
MASA
SEKOLAH MENENGAH ATAS
Melalui beberapa
tahap tes yang cukup menyulitkan, mengantarkan penulis ke SMA N 2. Senang
sekali rasanya mampu lolos menjadi siswi di sana karena persaingannya begitu
ketat.
Saat MOS, penulis masuk di kelompok Pecel dengan warna biru muda. Pembagian kelompoknya menurut abjad nama. Kebetulan penulis satu kelompok dengan Erza dan Gata, teman waktu di SMP. Penanggung jawabnya ada empat orang, yakni Kak Nahal, Kak Ichsan, Kak Widi, dan akhir kegiatan MOS, kami harus berjalan kaki dari SMA N 2 ke Lembah Hijau.
Dan ternyata kelompok Pecel mendapat
juara ketiga lomba game survival, Queen of MOS dari Pecel, dan surat cinta
terbaik dari Pecel juga. Tapi sayangnya kami tidak bisa menjadi juara umum.
Ketika pembagian kelas, penulis mendapat informasi dari Shalina. Ternyata penulis kembali satu kelas dengan teman sekelas saat SMP, yaitu Annisa, Adam, Farizky, dan Gata di kelas X RSBI 6. Sedangkan Aisyah dan Yola masuk kelas X RSBI 7 dan Adinda masuk kelas X RSBI 4. Karena tidak merasa nyaman dengan kelas semula dan ada yang mengajak untuk bertukar kelas, penulis dan Annisa memutuskan untuk menghadap wakil kepala sekolah agar dapat pindah ke kelas X RSBI 7. Dan ternyata permintaan itu dikabulkan. Adinda pun ikut pindah ke kelas X RSBI 7. Kembalilah kami berkumpul di satu kelas.
Walikelas kami adalah
Frau Lusken Sirait yang mengajar Bahasa Jerman. Baru beberapa saat, penulis
sudah merasakan rasa solidaritas yang tinggi di X RSBI 7. Dan akhirnya kami
sepakat menyebut Sepuluh Tujuh menjadi “XUJU SMANDA”.

